Lampung Selatan – Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi menerus selama beberapa jam sejak Sabtu (5/9/2026) malam hingga Minggu dini hari. Aktivitas vulkanik tersebut disertai suara gemuruh dan semburan api merah menyala yang teramati jelas dari Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Krakatau Pasauran, Banten.

Berdasarkan laporan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), erupsi menerus mulai terjadi pada pukul 23.07 WIB dan masih berlangsung hingga pukul 04.40 WIB. Tinggi kolom erupsi tidak teramati, namun warna merah menyala dari semburan erupsi terlihat secara menerus.

“Fenomena ini menyerupai lava fountain atau air mancur lava yang menghasilkan aliran lava. Erupsi menerus selama beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi air mancur lava merupakan fenomena yang umum terjadi,” demikian keterangan resmi Badan Geologi, Sabtu (5/9/2026).

Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan.

Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda dan secara administratif masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Pengamatan aktivitas gunung api tersebut dilakukan melalui dua pos pengamatan, yakni Pos PGA Anak Krakatau di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pos PGA Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Badan Geologi menyatakan status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). Status tersebut telah berlaku sejak 2 Juli 2026. Aktivitas erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik juga terus tercatat sejak periode tersebut hingga 5 September 2026.

Berdasarkan evaluasi Badan Geologi, tubuh Gunung Anak Krakatau yang kembali tumbuh setelah erupsi dan tsunami pada 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Kondisi tersebut dinilai belum berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meski demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi gunung api tetap dipantau secara intensif. Saat ini, potensi bahaya utama berasal dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar.

Badan Geologi meminta masyarakat dan wisatawan tidak memasuki wilayah dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.

Sementara masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung diminta tetap tenang serta menjalankan aktivitas seperti biasa dengan mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Informasi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat dipantau melalui kanal resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, serta aplikasi Magma Indonesia.

Anak Krakatau memiliki sejarah aktivitas yang berkaitan dengan bencana tsunami. Erupsi besar Krakatau pada 1883 menghasilkan tsunami yang berdampak luas. Pada 22 Desember 2018, aktivitas Anak Krakatau juga memicu longsoran sebagian tubuh gunung yang kemudian menyebabkan tsunami di kawasan Selat Sunda. Setelah peristiwa tersebut, erupsi berskala rendah berlangsung hingga 16 Desember 2023 sebagai bagian dari fase pertumbuhan kembali tubuh Anak Krakatau. Setelah mengalami jeda aktivitas, Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada 2 Juli 2026 dan hingga kini statusnya masih berada pada Level III atau Siaga.