Lampung, Diksiber – Sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya di pesisir Teluk Betung, Bandar Lampung, serta daerah Lampung Barat, Way Kanan, dan sebagian Lampung Selatan, merasakan udara pagi yang lebih dingin dari biasanya. Bahkan, beberapa warga mengaku merasakan hawa dingin yang menusuk hingga menggigil.

Fenomena ini dikenal dengan istilah Bediding, yaitu kondisi alam di mana suhu udara terasa jauh lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari di musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa suhu ekstrem ini dipicu oleh langit yang cerah tanpa awan serta pergerakan angin Monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering dari arah selatan.

Fenomena Bediding merupakan siklus tahunan yang lumrah terjadi di Indonesia dan biasanya mencapai puncaknya pada periode Juli hingga September. Penurunan suhu ini lebih terasa di wilayah dataran tinggi atau pegunungan.

Dampak serupa juga dirasakan oleh masyarakat di Pulau Jawa. Dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Yogyakarta, warga mulai merasakan hawa dingin yang tidak biasa pada malam hingga pagi hari. Bahkan, fenomena ini menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Menurut pengamatan BMKG, suhu minimum di beberapa wilayah di Jawa telah merosot hingga di bawah 10 derajat Celsius. Puncak fenomena Bediding diperkirakan akan berlangsung pada bulan Agustus 2026.

BMKG menyebutkan bahwa penurunan suhu ini dipicu oleh menguatnya angin Monsun Australia. Aliran udara dingin tersebut semakin diperkuat oleh keberadaan badai tropis di wilayah utara Indonesia, yang menyebabkan kelembapan udara menurun drastis dan frekuensi hujan berkurang.

Menghadapi fenomena ini, BMKG mengimbau masyarakat agar selalu menjaga kondisi kesehatan tubuh. Warga yang sering beraktivitas pada malam hari atau pagi buta disarankan untuk menggunakan pakaian hangat atau jaket tebal. Selain itu, masyarakat juga diharapkan tetap memantau pembaruan informasi cuaca resmi secara berkala dari BMKG.