Tanggamus – Ada ungkapan bijak yang mengatakan, “Jalan yang baik adalah cerminan dari kepedulian, dan kebersamaan adalah kekuatan yang tak tergoyahkan.” Kalimat ini seolah menjadi gambaran nyata apa yang dialami dan dilakukan oleh masyarakat Pekon Waykerap dan Pekon Sudimoro, Kecamatan Semaka. Jalan penghubung antar pekon ini telah berpuluh tahun menjadi urat nadi kehidupan warga, namun kondisinya kini memilukan: rusak parah, belum pernah tersentuh perbaikan nyata, dan seolah terlupakan oleh pihak berwenang, baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pekon setempat.

Mengetahui keadaan yang kian memburuk dan tidak ada tanda-tanda penanganan, masyarakat dari kedua pekon tidak lagi berdiam diri. Mereka bersatu hati, mengerahkan tenaga dan kemampuan sendiri untuk melakukan kerja bakti serta gotong royong, menimbun bagian jalan yang berlubang dan rusak demi dapat dilalui kembali dengan aman.

Imroni, tokoh pemuda dari Pekon Waykerap yang menjadi penggerak langkah mulia ini, menyampaikan rasa kecewa namun tetap penuh kearifan. Ia menyebutkan bahwa jalan ini termasuk jalur tertua yang ada di wilayah Kecamatan Semaka. Selama bertahun-tahun, petugas maupun pejabat kerap datang untuk meninjau lokasi, namun sayangnya, kunjungan itu hanya berhenti sampai di sana. Tidak ada tindak lanjut, tidak ada rencana jelas, dan tidak ada perubahan yang nyata dirasakan warga hingga hari ini.

“Jalan ini bukan sekadar tanah dan batu yang kami pijak. Ia adalah jalan rezeki bagi kami yang setiap hari pergi ke sawah dan ladang untuk mencari nafkah. Ia juga jalan ilmu, tempat anak-anak kami melangkah pergi bersekolah dari Waykerap ke Sudimoro. Jaraknya sudah jauh, ditambah lagi kondisi yang rusak. Saat hujan turun, jalan ini seolah menjadi rintangan yang berat dan berbahaya. Sungguh berat rasanya menanggung ini sendirian bertahun-tahun,” ujar Imroni dengan nada tenang namun penuh makna, Minggu (10/5/2026).

Hal serupa disampaikan oleh Paimin, warga Pekon Sudimoro yang turut bekerja sama dalam kegiatan tersebut. Dengan nada yang sedih namun tetap menjunjung tinggi kesantunan, ia membenarkan bahwa sampai saat ini belum ada perhatian atau upaya perbaikan yang dilakukan oleh pihak pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pekon. Karena sudah terlalu lama menunggu namun harapan belum terpenuhi, warga akhirnya bergerak dengan kemampuan sendiri, menimbun lubang-lubang jalan menggunakan krokos, agar setidaknya kendaraan dan pejalan kaki tetap bisa melintas.

Meski telah berusaha mengatasi sendiri dengan semangat persaudaraan, harapan besar masih tersimpan rapi di dada mereka. Paimin mewakili seluruh warga menyampaikan permohonan yang tulus, semoga langkah nyata yang telah dilakukan masyarakat ini dapat menyentuh hati para pemangku kebijakan. Secara khusus, warga pun menyampaikan harapan agar Bupati Tanggamus, H. Saleh Asnawi, segera menaruh perhatian dan turun tangan langsung, demi jalan ini diperbaiki secara menyeluruh, kokoh, dan berkelanjutan.

“Kami percaya bahwa hati para pemimpin pasti ingin melihat rakyatnya hidup nyaman dan sejahtera. Kami hanya berharap gotong royong ini menjadi suara yang didengar, menjadi pengingat bahwa kami pun bagian dari warga Tanggamus yang butuh perhatian. Kami ingin jalan ini diperbaiki dengan baik, bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk masa depan anak cucu kami kelak, demi kelancaran dan keselamatan semua yang melaluinya,” tambah Paimin.

Kini, upaya gotong royong ini menjadi pelajaran berharga: bahwa semangat kebersamaan masyarakat adalah kekuatan besar, namun kehadiran peran pemerintah tetaplah sangat diperlukan sebagai tanggung jawab untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Sebagaimana kata bijak, “Pembangunan yang sejati bukan hanya membangun fisik, tetapi juga membangun rasa peduli dan kebersamaan antara pemerintah dan rakyat tutupnya.***